|
Pendahuluan Orang takut terserang stroke, namun ironisnya banyak diantara mereka yang tidak tahu apa dan bagaimana stroke itu. Pertanyaan, “ Apakah saya kena stroke, dokter ? ” atau “ Penyakit saya bukan stroke kan dokter ? ”, sering saya dengar di ruang praktek. Sebagai ilustrasi, saya gambarkan beberapa kasus berikut ini.
Kasus 1. Bapak A, umur sekitar 45 tahun, pegawai sebuah bank. Ketika sedang dinas luar bersama 2 orang rekannya, saat di perjalanan mendadak tangan dan kaki sebelah kanan dirasakan berat dan sulit digerakkan. Bicaranya pelo. Beliau tetap sadar dan tidak merasakan sakit kepala atau pusing. Rombongan akhirnya tidak meneruskan perjalanan dan langsung mencari rumah sakit. Namun ketika sampai di rumah sakit, semua gejala tadi hilang. Tangan dan kaki kanan kembali normal dan bicaranya lancar, tidak pelo lagi.
Kasus 2. Ibu B, umur 60 tahun. Ketika hendak mengambil minum, mendadak gelasnya jatuh karena ternyata tangannya tidak kuat memegang gelas. Sore hari (tiga jam kemudian) kaki sebelah kanan dirasakan sulit untuk berjalan. Saat itu beliau tetap sadar. Ibu B kemudian dibawa ke rumah sakit. Saat diperiksa dokter di UGD, ibu B masih bisa mengangkat tangannya. Namun setelah di ruangan (bangsal), tangan beliau tidak bisa lagi digerakkan (lumpuh total). Bahkan keesokan harinya, walaupun tetap sadar, beliau tidak bisa bicara namun mengerti bila diajak bicara. Ibu B sudah lama mengidap kencing manis (DM).
Kasus 3. Ibu C, umur 52 tahun. Ketika bangun tidur pagi hari mendadak mengetahui tangan dan kaki kirinya lumpuh tidak bisa digerakkan. Mulutnya perot/mencong dan bicaranya pelo.Beliau kaget karena ketika hendak tidur tadi malam dalam keadaan sehat, tidak merasakan gejala apapun.
Kasus 4. Bapak D, umur 63 tahun. Sehabis pulang dari bepergian mengeluh sakit kepala. Dan ketika di kamar mandi mendadak jatuh dan tidak sadar. Beliau juga muntah-muntah. Bapak D segera dibawa ke rumah sakit, namun jiwanya tidak tertolong. Menurut keluarga sudah lama bapak D mempunyai darah tinggi (hipertensi).
Keempat contoh kasus diatas adalah stroke yang gejalanya jelas. Namun ada gejala dan tanda-tanda stroke yang tidak jelas. Misalnya kesemuten pada tangan, kaki atau wajah. Nggliyer atau vertigo, mendadak sulit menelan dll. Gejala dan tanda tersebut bisa oleh karena stroke, tetapi bisa juga bukan stroke. Jadi pertanyaan di ruang praktek tadi sangat logis diajukan karena memang banyak sekali tanda dan gejala penyakit stroke.
Terdapat beberapa bentuk (‘model’) stroke. Ada yang disebut TIA (Transient Ischemic Attack/serangan otak sepintas); ada Stroke in Evolution dan ada Stroke Komplit. Kasus 1 adalah contoh TIA, dimana gejalanya langsung parah namun dalam beberapa menit atau jam kemudian bisa sembuh sempurna. Orang yang pernah menderita TIA, sangat mungkin terkena stroke lagi. Untuk itu diperlukan obat untuk mencegah terserang stroke yang lebih parah. Sayangnya, bapak A tersebut tidak pernah kontrol lagi.
Contoh Stroke in Evolution adalah pada kasus 2, dimana gejalanya bertahap dan makin memberat. Kasus 3 dan 4 adalah contoh Stroke Komplit. Gejalanya mendadak dan langsung berat. Jadi, apakah stroke itu ? Stroke adalah gangguan fungsi saraf akut (mendadak) yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak, timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau beberapa jam, gejala dan tanda-tandanya sesuai dengan daerah fokal di otak yang terganggu.
Ada dua jenis stroke, yaitu akibat sumbatan dan akibat perdarahan. Stroke akibat perdarahan otak, yaitu karena pembuluh darah di otak pecah. Penderitanya biasanya tidak sadar. Contoh kasus 4 kemungkinan karena stroke perdarahan. Sedangkan stroke bukan perdarahan (sumbatan), penderitanya biasanya tetap sadar. Seperti kasus 1,2,3 tersebut diatas.
Sebagian orang mengatakan, stroke tidak saja sebagai penyakit tetapi merupakan “bencana” karena sering menyebabkan cacat seumur hidup. Baik berupa kelumpuhan separo badan dari yang ringan sampai yang berat, gangguan bicara, gangguan menelan dan bahkan gangguan kesadaran. Yang menyebabkan penderita stroke selamanya akan tergantung pada orang lain (keluarga). Dan ini bisa dianggap sebagai “beban” bagi keluarga tersebut.
Apakah gejala dan tanda-tanda stroke itu ? Seperti telah diuraikan diatas, gejala dan tanda-tanda stroke itu banyak sekali, tergantung bagian otak mana yang terkena. Yang sering adalah : - Lemah atau lumpuh separo badan - Mulut perot - Bicara pelo, tidak bisa bicara - Semuten / gringgingen separo badan - Gangguan menelan / sulit menelan - Nyeri kepala, vertigo - Tidak sadar / koma Yang perlu diketahui adalah bahwa kejadian stroke selalu mendadak.
Apakah Faktor Risiko Stroke itu ? Yang dimaksud faktor risiko stroke, kira-kira adalah hal-hal atau sesuatu yang membuat seseorang mudah terserang stroke. Ada banyak faktor risiko stroke, antara lain : Yang tidak dapat dicegah / dimodifikasi : Misalnya umur / usia. Yang dapat dicegah / dimodifikasi : - Hipertensi - Merokok - Penyakit jantung - Alkohol - Kencing manis (DM) - Hiperkolesterol - Kegemukan - Riwayat stroke/TIA
Bagaimana mencegah supaya tidak terkena stroke ?
Ada dua macam pencegahan stroke, yaitu pencegahan primer dan skunder. Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan sebelum seseorang terkena stroke. Sedangkan pencegahan skunder adalah pencegahan yang dilakukan setelah seseorang pernah stroke supaya tidak terkena stroke lagi (stroke ulang).
Pencegahan primer a. Menghindari Rokok, Kegemukan, Alkohol, Stres mental, Narkoba, konsumsi garam berlebihan b. Mengurangi Kolesterol, Lemak dalam makanan c. Mengendalikan Hipertensi, Kencing manis, Penyakit jantung
Berarti, penderita hipertensi, kencing manis dan penyakit jantung harus sering kontrol ke dokter supaya penyakitnya tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi stroke. Makan makanan bergizi dan olah raga teratur.
Pencegahan Skunder Yaitu pencegahan yang dilakukan setelah seseorang terserang stroke. Tujuannya supaya tidak terserang stroke lagi (stroke ulang). Caranya sama dengan pencegahan primer, ditambah minum obat teratur minimal selama 6 bulan sampai 2 tahun.
Pengobatan Yang terpenting adalah semakin cepat diobati (“yang benar”), hasilnya semakin baik. Karena kunci keberhasilan pengobatan stroke adalah pada awal serangan stroke (maksimal 6 jam dari serangan). Oleh karena itu penderita stroke seyogyanya secepat mungkin diobati, walaupun gejalanya ringan. Hal ini akan mengurangi kecacatan penderita stroke.
Kesimpulan Stroke merupakan kegawatdaruratan otak sehingga harus cepat “diobati yang benar”, walaupun gejalanya ringan. Kunci keberhasilan pengobatan stroke adalah pada awal serangan stroke. Namun bagaimanapun, pencegahan stroke lebih baik dan ‘lebih mudah’ dari pada mengobati stroke.
Please login or register to add comments |