header image
Halaman
Home
Artikel
Berita
Web Links
Contacts
Statistics
OS: Linux p
PHP: 5.2.6
MySQL: 5.0.89-community
Time: 10:52
Caching: Enabled
GZIP: Disabled
Members: 4
News: 28
Web Links: 3
Who's Online
We have 18 guests online
Home arrow Artikel arrow Psikologi arrow Fenomena Child Abuse
Fenomena Child Abuse PDF Print E-mail
Written by Gonesh   

Lima masalah yang berhubungan dengan penyiksaan (abuse) atau penelantaran (neglect) menurut DSM IV (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fouth Edition) terdiri dari :1. penyiksaan fisik pada anak, 2. penyiksaan seksual pada anak, 3. penelantaran anak, 4. penyiksaan fisik pada oang dewasa, dan 5. penyiksaan seksual pada orang dewasa.

Penyiksaan dan penelantaran anak terjadi pada anak laki-laki dan perempuan pada semua usia, pada semua kelompok, pada semua etnis dan pada semua tingkat sosioekonomi.

Anak-anak yang telah disiksa secara fisik atau seksual datang dengan berbagai gangguan psikiatrik, termasuk kecemasan, perilaku agresif, ide paranoid, gangguan stress pasca traumatic, gangguan depresif, dan peningkatan resiko bunuh diri. Anak-anak yang telah disiksa secara seksual telah dilaporkan memiliki peningkatan frekuensi harga diri yang rendah, depresi, gangguan dissasosiatif, dan penyalahgunaan zat. Penganiayaan yang kronis tampaknya mempermudah perilaku agresif dan kasar pada anak yang rentan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyiksaan dan penelantaran anak :

  1. Banyak orang tua yang menyiksa anaknya sendiri pernah menjadi korban penyiksan fisik dan seksual dan tinggal di dalam rumah yang penuh dengan kekerasan. Pendorong kuat dari agresi adalah pemaparan lama terhadap rasa sakit dan siksaan fisik.
  2. Kondisi kehidupan yang penuh dengan stress termasuk lingkungan yang sangat padat dan kemiskinan, adalah berhubungan dengan perilaku agresif dan mungkin berperan terhadap penyiksaan fisik pada anak-anak.
  3. Gangguan mental mungkin memainkan peranan pada penyiksaan dan penelantaran anak sejauh proses pikiran orangtua terganggu. Orangtua yang mengalami depresi atau psikotik atau menderita gangguan kepribadian berat mungkin memandang anak-anaknya sebagai jahat atau mencoba untuk membuat dirinya gila.
  4. Karakteristik anak tertentu dapat dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap penelantaran dan penyiksan fisik dan seksual. Anak-anak yang hiperaktif khususnya rentan terhadap penyiksaan, khususnya jika mereka dilahirkan orangtua dengan kemampuan mengasuh anak terbatas.
  5. Pelaku sindroma pemukulan anak (battered child syndrome) yaitu penyiksaan fisik adalah lebih sering ibu dibandingkan ayah. Satu orangtua bisanya adalah pemukul yang aktif dan orangtua yang lain secara pasif menerima/melihat pukulan.
  6. Banyak anak yang menerima pukulan dan disiksa berasal dari keluarga yang miskin, dan keluarga yang cenderung terisolasi secara sosial.
  7. Sembilanpuluh persen orangtua tersebut mengalami penyiksaan fisik yang parah oleh ayah atau ibunya sendiri di masa lampau.

Gambaran klinis penyiksaan fisik terhadap anak bisa dipertimbangkan jika seorang anak datang dengan cedera atau memar yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat atau yang tidak sesuai dengan riwayat penyakit yang diberikan oleh orangtua. Indikator fisik yang mencurigakan adalah memar, dan tanda-tanda yang membentuk pola simetris, seperti cidera pada kedua sisi wajah, dan pola teratur di punggung, bokong dan lipat paha, sebab cidera yang tidak disengaja kecil kemungkinannya menimbulkan pola yang simetris. Anak yang secara berulang dibawa kerumah sakit untuk pengobatan masalah yang aneh atau teka-teki oleh orangtua yang pertamakali tampak sangat bekerja sama mungkin merupakan korban sindroma Munchausen oleh orang yang dekat (Munchausen syndrome by proxy). Pada skenario penyiksaan tersebut orangtua secara berulangkali menyebabkan penyakit atau cidera pada seorang anak- dengan menyuntikkan racun atau meyebabkan anak makan obat atau toksin sehingga menyebabkan diare, dehidrasi, atau gejala lain-dan selanjutnya segera mencari bantuan medis. Karena orangtua patologis adalah licik dan tampak patuh, diagnosa adalah sukar untuk dibuat

Secara perilaku anak yang disiksa mungkin tampak menarik diri dan ketakutan atau mungkin datang dengan perilaku agresif dan mood yang labil. Mereka sering menunjukkan depresi harga diri yang rendah, dan kecemasan. Mereka mungkin mencoba menyembunyikan cidera fisik dan biasanya segan megungkapkan penyiksaan karena ketakutan akan pembalasan dendam. Mereka mungkin menunjukkan suatu keterlambatan dalam peristiwa perkembangan dan mungkin terlibat dalam perilaku merusak diri atau bunuh diri.
Sebagian besar pelaku penyiksaan seksual dikenal oleh korban anak-anaknya dan seringkali merupakan anggota keluarga yang sangat dipercaya dan mudah mendekati anak dan berada dalam posisi berkuasa.
Sebagian besar kasus penyiksaan yang melibatkan anak tidak pernah terungkapkan karena perasaan bersalah, malu, ketidaktahuan, dan toleransi korban.

Tindak kekerasan pada anak, sebenarnya tidak terbatas pada pemukulan saja. Tapi, apa pun tindakan yang membuat anak menderita merupakan bentuk kekerasan.
Secara garis besar, tindak kekerasan pada anak dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  1. Fisik. Bentuk kekerasan secara fisik pada anak antara lain memukul, menjewer, membenturkan kepala ke tembok, dan masih banyak lagi.
  2. Psikologi. Bentuk kekerasan pada anak secara psikologis berupa membentak, mengancam, mengejek, mencemooh, menghina dan memaksa.
  3. Seksual. Bentuk kekerasan pada anak secara seksual adalah pemerkosaan dan pencabulan.
  4. Apapun bentuknya, kekerasan yang terus menerus dialami anak dapat merusak perkembangan jiwanya.

Sebab hal ini dapat menimbulkan trauma fisik dan psikis yang akan memicu anak menjadi pribadi yang negative. Seperti :

  1. Gangguan fisik adalah keluhan-keluhan yang menyangkut keadaan fisik seperti nafsu makan terganggu, demam, sesak nafas dsb.
  2. Agresif yaitu perilaku menyakiti orang lain atau makhluk lain, seperti mengejek, mengata-ngatai orang, bertengkar, memukul, ingin menyakiti orang lain, menyakiti binatang dsb.
  3. Gangguan social yaitu tingkah laku sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan ataupun tidak berperilaku sesuai dengan usianya, seperti menyendiri,menjauhkan diri dari pergaulan, berlaku seperti anak kecil dsb.
  4. Gangguan obsesi adalah keterpakuan pada pikiran tertentu yang sulit untuk dihindari, misalnya terus menerus memikirkan kebersihan, kerapihan, terdorong untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang dsb.
  5. Gangguan terokupasi secara seksual, adalah kecenderungan untuk memikirkan hal-hal seputar seks dan berusaha mencari rangsangan-rangsangan yang bersifat seksual seperti merangsang alat kelamin sendiri, membicarakan dan memikirkan hal-hal seputar seks.
  6. Mudah melakukan tindak kekerasan.

Semua itu terjadi karena anak meniru dan menerapkan kekerasan yang diterimanya. Anak adalah imitator yang ulung yang akan menirukan apa yang diterimanya baik dari orangtuanya maupun lingkungannnya. Termasuk tindak kekerasan yang diterimanya.


User Comments

Please login or register to add comments

footer image